Jumat, 11 Juli 2014

Hitung Cepat Tidak Ada Yang Benar Namun Berguna

Dengan maraknya berita mengenai hitung cepat banyak sekali pihak yang coba membahas dan meminta tanggapan tentang perbedaan hasil hitung cepat pilpres dari beberapa lembaga survey maka akan saya coba bahas sedikit hal ini sambil update blog yang sepi ini. Agar lebih mudah dimengerti saya akan coba tanggapi hal ini secara lugas dan sederhana dari sudut pandang orang awam, saya tidak akan membahas sisi statistika teoritis metode survey sampling namun cek list general sebelum kita mencerna hasil survey.  

Tanpa tendensi menyalahkan lembaga survey ataupun partai yang dinyatakan menang oleh hitung cepat versi manapun, ada beberapa poin dasar yang perlu dipertanyakan dari fenomena hitung cepat ini yaitu: 

  1. Hitung cepat dilakukan berdasarkan penarikan contoh  (sampel), Jika peneliti salah mendesain pengambilan contoh maka besar kemungkinan hasilnya salah atau tidak mewakili populasi -->Apakah pengambilan contohnya sudah benar?
  2. Rendahnya kendali kualitas dalam pengambilan contoh mengakibatkan rendahnya kualitas hasil hitung cepat -->Apakah pengendalian kualitas data benar?
  3. Keterbukaan jumlah personil dan struktur organisasi lembaga survey berakibat langsung pada kualitas hasil hitung cepat --> Apakah lembaga survey kredibel  ?
  4. Keterbukaan  sumber pendanaan lembaga survey berakibat langsung pada kredibilitas hasil hitung cepat--> Apakah lembaga survey Independen?
  5. Tingkat Error yang  rendah  bukan berarti tidak ada Error-->Apakah yakin lembaga survey jujur menyampaikan pengukuran tingkat Error?  

Kelima cek poin diatas mungkin tidak terstruktur dan kurang ilmiah namun setidaknya bagi saya jika salah satu poin saja tidak dapat dikonfirmasi atau dijelaskan maka sulit bagi kita mempercaya hasil hitung cepat lembaga survey manapun itu. 

Namun sejatinya hasil hitung cepat ini sangatlah berguna bagi internal tim sukses yaitu:

  1. Konsolidasi strategi politik pasca pilpres, mungkin ada partai yang ingin tetap bersatu atau pecah kongsi karena kemungkinan besar capres yang di dukung kalah 
  2. Kontrol perhitungan suara, hitung cepat bisa digunakan oleh internal partai sebagai  kontrol perhitungan kantong – kantong suara namun perlu diingat walau bagaimanapun perhitungan resmi hanyalah dari KPU. 

Yang sangat disayangkan adalah pemaparan hasil perhitungan terhadap publik diluar dua tujuan diatas. Selain secara etika  dan motif perlu dipertanyakan pada umumnya lima cek poin sebelumnya sulit untuk dipenuhi.

Pada akhirnya saya ingin mengajak teman-teman pemuda-pemudi Indonesia untuk bersikap lebih kritis juga berhati-hati mencerna berita hasil survey  jangan sampai kita terpecah belah dan tidak mempercayai satu-satunya lembaga resmi pemerintah republic Indonesia yang memiliki wewenang untuk menyampaikan hasil akhir perhitungan suara pilpres. Sebaiknya kita menahan diri untuk memforward atau share berita yang tidak jelas sumbernya dan kita tidak mengerti konteks nya, bersabar menunggu tanggal 22  pengumuman hasil KPU juga selalu berdamai apapun hasil akhir pilpres 2014. 

Oleh,
Febriandi Rahmatulloh. S.Si (Stat), M.Si (Appl Stat)
Wakil ketua IKASTAT UGM 
Kuli di perusahaan swasta 
Penggiat ekonomi kecil kerakyatan berbasis lingkungan 



Untuk referensi detail penjelasan margin of error dan pendapat beberapa rekan saya bisa dirujuk pada tautan berikut :

Dr.rer.nat Dedi Rosadi  S.Si, M.Sc - Prof Statistika UGM
https://www.facebook.com/MR.DR2

Dirga Ardiansa S.Sos, M.Si (Appl Stat) - Statistician Peneliti Puskapol UI
https://www.facebook.com/d.ardiansa

Achmad Hisyam, S.Si (Stat), M.Si (Krim) -Founder Olahdata.com kriminolog 
https://www.facebook.com/hisjam.fouadj
https://achmadhisyam.wordpress.com/2014/07/10/menyikapi-perbedaan-hasil-quick-count/

Senin, 28 Oktober 2013

Sepedah Bapak



Pagi itu setelah solat subuh Bapak mulai menuntun sepedahnya dengan hati-hati sebelum diparkir di luar rumah. Dari mata yang sayup setengah tertidur, aku bisa melihat Bapak memiringkan sepeda itu terparkir rapih di rumah kami yang berada diantara gang sempit.

Hari itu hari yang penting karena saya harus berangkat  bertanding keluar kota. Sepeda itu istimewa walaupun  warnanya sudah tidak jelas, setangnya sudah tidak  terlalu lurus dan kedua ujung pegangan besi nya sudah mengelupas. Namun saat itu, itulah satu-satunya kendaraan pribadi milik Bapak.
Pagi itu akhirnya kita berboncengan berangkat menuju terminal bus kecamatan. Letaknya  tak jauh dari suatu pasar di pesisir selat sunda. Bapak mengayuh dan saya berdiri di belakang jeruji sepeda sambil mengendong tas bekal perjalanan untuk 4 hari kedepan.   

Sepanjang jalan dari rumah menuju terminal bus  bapak ber gumam“Motor kantor nya lagi dipakai temen A, tukang ojek juga belum ada pagi-pagi ginih.  Jadi bapak anter naik sepedah aja gak apa-apa yah… ” dengan logat sunda yang kental, sambil terus mengayuh ter engah engah di udara yang dingin.  Bapak memang bukan tipikal orang yang suka memakai fasilitas kantor untuk kepentingan pribadi,  sampai-sampai bingung kalau liat orang lain yang hilir mudik pakai motor atau mobil ber Cap kantor bapak  buat nganter anak nya tapi saya sendiri kesana kemari disuruh jalan jalan kaki, naik sepedah atau paling banter naik angkot.

Suatu kali memang bapak pernah bercerita “Motor itu kendaraan kepunyaan kantor bukan milik Bapak Nak. Sebaiknya kamu gak usah pakai motor bapak lagi buat belajar, yah! Lagian bahaya… takut kamu kenapa-napa.“  Ibu memang pernah cerita di suatu sore yang mendung aku ketauan diam-diam menggiring motor kantor Bapak ke tanah lapang untuk menaikinya dan sekali-dua kali terjatuh, akhirnya saat itu cuman bisa diam sambil melihat anak-anak sebaya yang lain ngebut naik motor keliling kampung. 

Hari sudah mulai terang saat bus antar kota siap berangkat. Bapak mulai melambaikan tangan tanda perpisahan dan buru-buru mengayuh sepedah kembali ke rumah tuk siap-siap kembali bekerja.  Empat hari berlalu dan akhirnya saya kalah bertanding, ini bukan pertama kalinya kalah bertanding tapi bapak tetap mengantar selalu mengantar berangkat bertanding .  Bapak sering berseloroh  “ Kalah tanding mah biasa yang jelek itu gak berani berangkat tanding”


Udah hampir 16 tahun kejadian itu  berlalu tapi sulit dilupain pelajaran tidak langsung dari tingkah laku bapak yang gak pernah mau pakai sesuatu yang bukan haknya atau peruntukannya, terus nge dukung hoby-hoby postif  anaknya dan ngasih semangat buat terus nyoba kayaknya ngebentuk kepribadian saat ini. Thanks to bapak dan spedah nya saat itu. 


Kamis, 17 Oktober 2013

Merasakan Hari Arofah di Padang Arofah


Tidak seperti biasanya, hari itu 11 Oct 2013 Anakku Albirr dan Istri sudah sibuk berkemas semenjak pagi untuk 8 hari kedepan. Alhamdulillah tahun ini saya beserta istri diberi rejeki dan kesempatan untuk melakukan ibadah Hajji, namun sayang Albirr harus di tinggal di Riyadh karena kita khawatir  akan kesehatannya kalau harus diajak.

Tak pernah terbayang sebelumnya bisa menunaikan rukun islam yang ke 5 dalam waktu yang dekat, namun kita memang  sudah mulai berniat kuat dan berusaha menabung untuk melakukan umroh semenjak awal 2012. Waktu itu kami perkirakan perlu waktu 2 tahun untuk sabar mengumpulkan uang sampai bisa umroh ber dua, mengingat kondisi keuangan yang baru saja terkuras karena rumah dan sekolah anak. Tapi niat kita saat itu sangat kuat, semua diusahakan secara maksimal untuk mencari rejeki dan berhemat mengatur pengeluaran agar bisa berkunjung ke tanah suci. Di saat yang bersamaan kita putuskan untuk membatalkan beberapa rencana berlibur ke negara tetanga di asia juga merencanakan untuk tidak pergi ke negara lain sebelum mengunjungi masjidil haram dan masjid nabawi.

Ternyata Alloh sang maha pemberi rejeki & maha memberikan jalan dari arah yang tidak di sangka-sangka, tak lama setelah saya berniat pada bulan Mei 2012 mantan bos yang sudah bekerja duluan di Saudi narik kerja dan akhirnya sampai saat ini kami sekeluarga sudah berkali-kali umroh bahkan beserta orang tua. Setelah 1,5 tahun di saudi bekerja, mengumpulkan uang juga menunggu waktu pendaftaran, saya beserta istri berangkat beribadah Hajji dari Riyadh dan merasakan hari Arofah di padang Arofah..... Alhamdulillah...

Di waktu yang lengang saat ngobrol santai saya sering cerita ke istri sekenario Alloh memang luar biasa, mungkin kalau dulu gak kerja di kantor sebelumnya, saya gak bkl kenal SiBos, Gak akan kerja di Riyadh dan gak akan pergi umroh Juga Hajji dalam waktu dekat. Alloh yg maha mengatur maha pembuat sekenario, kita hanya bisa ber niat yang kuat, ber usaha yang kuat dan ber sabar.

Tidak jauh berbeda dengan Riyadh hari ini cuaca di mekkah terasa panas menyengat. Hari ini hari ke 7 tenda kami di Mina terasa lebih lengang karena sebagian dari rombongan sudah selesai beribadah. Alhamdulillah satu misi terselsaikan, misi yg lain menunggu untuk diselsaikan.. Bismillah....

By Android-Mina Camp-Makkah- 16:20-  17 Oct 2013

Jumat, 20 September 2013

Selamat Jadi Orang Besar ...

Tidak ada kue ulang tahun di umurmu yang ke-5 ini Al.., ya… begitulah menjadi Orang Besar ga semua yang diinginkan bisa didapat. Tapi jangan takut kita bisa beli kue ulang tahun kapan saja dan makan di restoran kapan saja. Coba lihat orang-orang itu  makan saja susah, mau sekolah gak bisa, tempat tinggal gak ada, ayo belajar berempati.

Anakku  harapanku jadilah Orang Besar lakukan apapun yang kau sukai asal itu baik, tidak berbahaya dan membahayakan diri sendiri juga orang lain. Ayunkan setiap langkahmu dengan ringan hati, gapai semua mimpi, buat orangtua mu ini bangga. Bakar selalu keberanian di dada, tegarlah menghadapi dunia dan bertahanlah menghadapi ujiannya. Lihatlah bintang gemintang saat gelap mulai datang agar tidak tersesat dan kembali menemukan petunjuk arah. Wahai anak ku jadilah orang besar!! 

“…. Orang kecil jujur dibilang tolol
Orang Besar tolol dibilang jujur
Orang kecil berani dikata kurangajar
Orang Besar kurang ajar dibilang berani ….. “
(Cuplikan Puisi Orang Kecil Orang Besar, Karya KH Mustofa Bisri/Gus Mus)

Rabu, 26 Juni 2013

Penjara Dunia

Terkadang beberapa rekan memilih untuk mundur, menyendiri daripada berkumpul. Memilih terdiam, karena merasa tidak pada tempatnya. Asik dengan dunianya, daripada memberi usul saran. Cuman bengong, daripada mengkomunikasikan ketidaknyamanan dan memberi masukan dengan cara yang baik kepada yang bersalah.

Hidup memang pilihan, sayangnya terkadang yang lebih tua dan seharusnya jadi panutan tidak selalu sejalan. Begitupula yang muda yang kita harapkan menjadi agen perubahan  tiba-tiba berubah haluan. Begitulah memang berharap pada selain Tuhan memang ujung-ujungnya kecewa.

Tapi walau bagaimanapun penjara bukan lah tempat untuk orang-orang yang berbeda pemikiran dan dunia ini bukanlah penjara.  Selamat akhir pekan.




Rabu, 19 Juni 2013

Keras Terhadap Diri Sendiri

Rabu malam week end seperti ini teringat teringat malam-malam 20 tahun yang lalu, ngobrol berdua sama Bapak di  ruang tamu sekaligus tengah rumah dan ruang makan kami di perantauan. Bapak dengan gaya nya santai dan senang bertukar pikiran saat itu selalu menanyakan "gimana teman-teman? gimana latihan karate? kapan mau jalan-jalan naik gunung lagi?" beda jauh memang dengan ibu yang lebih sering nannya yang serius-serius tetang pelajaran misalnya bapak malah seringkali ngobrol tentang hal-hal yang waktu itu saya anggap gak terlalu penting.

Terkadang kita ngobrol tentang rokok, waktu itu saya belum kenal rokok tapi bapak yang sempat merokok dan berhenti sering cerita kenapa orang merokok, apa bahaya nya apa yang dirasakan bapak waktu sempat merokok, gimana cara mendeteksi rokok yang sudah di campur ganja, bahaya nya masa depan kalau sempat kena narkotika sampai-sampai dikasih buku yang isinya tentang rokok dan narkotika saat kelas 1 SMP alhmdulillah saya gak pernah nyentuh narkotika sama sekali karena takut dan sibuk kegiatan olah raga .

Waktu itu bapak juga selalu mendukung semua kegiataan luar sekolah saya, mulai dari karate, nge band dan naik gunung. Dorongan bapak  buat kegiatan diluar sekolah cukup intens dan tinggi karate dimulai kelas 4 SD sampai saat ini support acara-acara kegiatan petandingan dan outing ke luar kota sangat besar dan hampir tidak putus-putus. Jadi saat kelas 3 SMP saya sudah dapet atau lulus sabuk hitam dan 1 junior.  Begitu pula dengan hiking, naik gunung dan panjat tebing bapak dengan keuangan yang terbatas saat itu membelikan Tas ransel 80liter eiger, sepatu tracking dan beberapa peralatan lain yang lengkap.  Sempat juga ikut latihan lari marathon.

Sempat buat berfikir berenti karena waktu itu hari-hari berasa cape, latihan karate seminggu 2-3 kali, belum latihan  marathon, sekolah agama kadang naik gunung tapi bapak selalu bilang "Kamu udah mulai terlalu jauh, kalau berenti sekarang sayang " kayak kesetrum akhirnya mulai latihan lagi sempat juga rahang patah pelipis sobek dan sering pingsan karena waktu latihan karate badan dan umur  masih kecil tapi lagi lagi bapak bilang "Biasa itu udah sana latihan lagi kalo mau berenti dari dulu jangan ikutan sayang udah terlalu jauh kamu".  Saat mendampingi latihan marathon bapak selalu mendampingi dengan spedah federal nya  sambil senyum dan bilang " Ayo gak ada yang bisa nyelsein perjalanan ini selain kaki kamu sendiri tinggal 10KM lari terus sana "  waktu itu latihan seminggu dua kali 20km dari anyer ke labuan kalau tidak salah. Begitu pula dengan nge band dan belajar agama bapak tau betul apa yang saya kerjakan karena semua guru yang ngajar teman bapak.

Hal yang sama terjadi waktu kuliah beberapa semseter nilai jelek dan hampir kena DO karena IPK kurang dari 2 di UGM. Beda dengan ibu yang marah marah bapak ngajak jalan2 dan makan bubur kacang di sektar kosan di Jogja sambil ngobrol santai "Kamu nyontek gak itu hasil kamu belajar bukan? yaudah kalau masih bisa di perbaiki perbaiki aja  temen-temen bapak juga dulu ada yang lulus sampe 20 tahun, tapi kamu harus punya kemauan keras sama diri sendiri buat belajar lagi" akhirnya malah gak enak dan semangat lagi belajar sampai akhirnya lulus.


 Saat ini gw baru sadar dukungan-dukungan halus dari orangtua waktu kecil sampe besar biar sibuk dengan kegiatan yang keras membentuk mental gw  jadi disiplin, keras dalam kemauan dan tahan banting. Seandainya waktu itu gak sibuk dengan karate, naik gunung, marathon  dll mungkin gw sibuk main, pacaran, gaul gak bener juga ber mental loyo. 

Beberapa saat setelah lulus dan dapet kesempatan ke eropa bapak bilang "Akhirnya satu per satu mimpi kamu terwujud " dan bulan mei 2012 se saat sebelum berangkat kerja ke Saudi bapak pun bilang "Bapak bukan orang kaya yang bisa kasih warisan dan harta yang banyak jadi kemanapun kamu pergi selama masih bisa belajar dan menafkahi keluarga bapak pasti izinkan"   yah itulah walaupun bapak orang yang halus dan santai dalam menyampaikan sesuatu gw baru ngeh kalo semua yang diajarkan bapak yaitu cobalah keras terhadap diri sendiri seperti andri wongso bilang jika kamu keras terhadap diri sendiri maka dunia akan melunak terahadap kamu kalo gak salah gitu ya....  :D have a nice week end guys...... .

Kamis, 06 Juni 2013

Hutang Budi.....

Hidup di dunia memang pasti tergantung satu sama lainya, tapi sampai dengan detik ini sebisa mungkin gw selalu coba buat lebih independen dari segi apapun. Semua permohonan bantuan atau pertolongan selalu gw usahkan untuk minta sama Tuhan dan paling kepepet sama orang tua. Berat emang urusannya kalau sampai ada pihak lain yang ikut berkontribusi selain dua itu dalam perjalanan hidup kita, ujung ujungnya Hutang Nyawa bayar Nyawa hutang Budi bayar Budi.

Gak sedikit gw liat temen-temen semasa kuliah nya di bantu di biayai oleh organisasi /yayasan sosial tertentu yang terafiliasi baik secara agama bahkan politik harus berjuang keras untuk membayar hutang budi setidaknya dengan pemikiran-pemikiran yang teguh dan kukuh atas kelompok tertentu.

Fenomena yang sama  gw dapatkan saat melihat hasil survei tentang elektabilitas parpol, ada suatu badan survei  yang menyatakan partai A akan begini begitu ternyata orang tersebut dulunya pernah menjadi ketua BEM di universitas ABC karena bantuan partai A. Yah elah... Juragan sebegitunya yah hutang yang harus dibayar ente? Ilmu kita yang paling simpel yang kita dapetin semasa kuliah buat menyampaikan kebenaran sebenar-benarnya dan menyampaikan infromasi sejelas-jelasnya kemana?  apa dilacur hutang budi harus dibayar budi.

Mudah-mudahan anak dan semua keturunan gw gak bakalan kemakan hal-hal beginian, mudah mudahan mereka bisa selalu independen, mandiri untuk bisa belajar, kuliah juga bekerja dari tangan keluarganya sendiri dan selalu dilimpahi rejeki halal yang banyak juga baik. Amin.